Temuan Tiga Buku Beracun Di Universitas Southern Denmark(1)

Temuan Tiga Buku Beracun Di Universitas Southern Denmark

Diposting pada

Temuan Tiga Buku Beracun Di Universitas Southern Denmark

Buku merupakan salah satu benda yang bisa mengabadikan sejarah. Tidak hanya melalui kisah dan catatan di dalamnya, termasuk dari fisik buku itu sendiri. Karenanya deretan buku yang tersusun rapi di perpustakaan bisa menjadi referensi yang tak lekang oleh waktu. Pengarsipan buku dilakukan untuk mengklasifikasikan jenis buku untuk mempermudah pencarian. Namun, untuk buku-buku kuno membutuhkan perawatan ekstra serta penanganan khusus.

Temuan Tiga Buku Beracun Di Universitas Southern Denmark(1)

Penemuan Buku Kuno Yang Beracun

Hal inilah yang terjadi di Universitas Southern Denmark. Pada saat dilakukan pengarsipan buku kuno, tidak sengaja ditemukan tiga buah buku yang beracun. Ketiga buku tersebut berasal dari abad ke 16 dan 17. Ditemukan oleh oleh Kaare Lund Rasmussen, seorang profesor, dan Jacob Povl Holck, seorang pustakawan penelitian di universitas.

Buku-buku beracun tersebut memiliki nama yang panjang, kemudian judulnya dipersingkat sebagai berikut.

1. Anglica Historia, yang ditulis oleh Polydorus Vergilius pada tahun 1570
2. Historia Boiemica, yang ditulis Oleh Johannes Dubravius pada tahun 1575. Buku ini terikat dengan Buku “Æneas Sylvius: De Bohemorum And Eks imperatorumnya Aliqvot Origine Ac gestis Historia”
3. Vitæ Patrum Das ist: Das Leben der Altväter, Zu nutz Den Predigern Göttliches Worts, ditulis oleh Georg Maior, dicetak pada tahun 1604.

Baca juga artikel kami lainya mengenai: jasa penulis artikel judi online

Kedua peneliti tesebut sedang melakukan pekerjaan pengarsipan untuk menemukan teks yang tersembunyi di dalam sampul buku kuno. Holck dan Rasmussen sedang menganalisis buku-buku itu karena sampulnya terbuat dari bahan-bahan daur ulang. Potongan naskah kuno seperti salinan hukum Romawi dan kanonik ditemukan sebagai sampul buku tersebut. Sementara pembatas buku Eropa dari abad 16 dan 17 itu digunakan untuk menempatkan fragmen dalam ikatan. Ini dilakukan untuk meningkatkan kekuatan bendelan yang ada pada pangkal buku.

Mengapa Buku-buku Tersebut Beracun?

Holck dan Rasmussen berusaha untuk membaca buku yang telah ditulis dalam bahasa Latin klasik, tetapi mereka tidak berhasil karena lapisan cat hijau yang tebal mengaburkan huruf-huruf. mereka menganalisis buku-buku tersebut menggunakan teknologi fluoresensi X-ray mikro. Teknologi tersebut sering digunakan untuk menganalisis sifat kimia tembikar dan lukisan. Ketika pigmen hijau tersebut dianalisis lebih lanjut, hasilnya sungguh mencengangkan. Terungkap bahwa pigmen hijau tersebut mengandung jumlah zat Arsenik yang sangat tinggi.

“Kami mencari tulisan yang muncul karena tinta mungkin mengandung tembaga atau besi atau kalsium. Namun, saat kami menempatkan sinar X-ray di permukaan hijau kami melihat jumlah arsenik yang sangat tinggi,” ungkap Rasmussen pada reporter The Conversation.

Seperti yang telah dkaetahui bersama, Arsenic adalah salah satu zzat yang paling mematikan.

Ketika arsenik bersentuhan dengan asam terbentuk Arsine. Pusat Nasional Informasi Bioteknologi menggambarkan Arsine sangat beracun, dan memperingatkan bahwa gas tak berwarna ini dapat memecah sel darah merah dan menyebabkan kematian. Selain itu paparan arsen menghasilkan gejala infeksi usus, iritasi paru-paru, sakit perut, mual diare, lesi kulit, dan gagal ginjal.

Apa Tujuan Penggunaan Cat Yang Dicampur Dengan Racun Mematikan?

Cat yang digunakan pada buku-buku itu disebut Paris Green, dan itu juga digunakan dalam lukisan di Eropa pada awal abad ke-19. Ini berarti banyak potongan di museum saat ini juga mengandung arsenik. Para pelukis berhenti menggunakan Green Paris atau copper (II) acetate triarsenite pada paruh kedua abad ini.

Sangat mudah membayangkan situs judi online buku-buku beracun yang digunakan untuk tujuan pembunuhan. Cat itu tidak digunakan untuk tujuan estetika karena hanya sebagian dari selimut yang dilapisi. Tetapi para peneliti percaya alasan sebenarnya mengapa mereka dilapisi cat yang mengandung arsenik adalah untuk menjaganya dari serangan serangga dan hama. Untuk keamanan, perpustakaan menyimpan buku beracun tersebut di kotak kardus terpisah dengan label keselamatan di lemari berventilasi,

halaman referensi: https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/18/07/04/pbbcej368-peneliti-temukan-buku-beracun-dari-abad-ke-16

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *